Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Juli 2014

Just Write !

Do what you write, write what you do, 

Do what you love. love what you do. 

Any think, Anytime, Anywhere.

Whatever, Whenever, Wherever. . . 



Just take action... 

Rabu, 19 Maret 2014

Main Kata

Proses menulis ada beberapa tahap, PRA PEN PAS. Pra Penulisan, Penulisan, Pasca Penulisan. Biasanya saya menuliskan dulu keyword / kata kata yang akan di munculkan dalam tulisan. setelah mendapatkan kata kata tulislah beberapa kata tersebut, kemudian mulai menyusun kalimat yang di bumbui kata kata tadi.  Boleh berdasarkan SPOK (Subjek-Predikat-Objek-Keterangan) atau berdasarkan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) atau kalimat langsung, kalimat tidak langsung dan lain lain. Ini contoh beberapa kata dan kalimat yang saya buat beberapa waktu lalu : 

Angin. Butiran bening. Kampus. Pasar. Singgasana Kuda. Kotoran. Terkejut. Mengagetkan. Menyedihkan. Teriris sembilu. Anak kecil. Kaget . berteriak. Lari. Astaghfirulloh. Tertawa. Langkah seribu. Berjongkok. Tertawa geli. Rumah. Penghuni rumah. Tukang Jahit. Ayam. Mati. 2 tahun. Tertawa bersama. Menerka. Hyperaktif. Pulang. Terimakasih. Kantor pos. tukang parkir. Hujan gerimis. Materai 6000. Heran. Parkiran. Kalender. Kampanye. Partai. Sedot WC. Senyum. Ngakak.

Jumat, 25 Mei 2012

Novel Bersambung Belom ada Judul


Part 1 *
Raffa menendang batu – batu kerikil di kakinya. Kesal. Bayangan itu masih berada dipikiran. Entah kenapa yang slalu muncul dan berada dimatanya hanya gadis itu, Nanda. Padahal ia tau jika ia telah ditolak gadis yang selama ini jadi saingannya di kelas.
“aaaaaahhh”, ia kembali menendang kerikil di depannya. Masih terbayang dimatanya ketika Nanda mengucapkan kata – kata penolakan untuknya.
“Maaf fa, tapi aku pikir lebih baik kita berteman saja. Aku tak punya rasa lebih terhadapmu…”
Awalnya Raffa memang sedikit frustasi. Apalagi setelah kejadian itu, Nanda sedikit menjaga jarak dengannya. Tapi itu sudah lama. Kejadian itu berada di 2 tahun yang lalu. Seharusnya Raffa telah melupakannya. Tapi takdir berkata lain, gadis manis itu malah kian sering hinggap dikepalanya.
Ia menatap jalanan yang ramai. Lampu merah menyala. Ia segera bergabung dengan orang – orang penyebrang jalan lainnya. Raffa berjalan cepat. Perasaannya kian menyiksa dirinya. Huh untung saja ia tidak menabrak penyebrang lain yang membawa tumpukan kardus. Nanar ia mengamati jalanan, sadar jika ia salah mengambil jalan. Ia menggerutu.
Part 2**
Ting..ting..ting.. Lonceng SMA Anak Langit berbunyi nyaring. Raffa yang sedang asyik menikmati kuliner siang di kantin vavoritnya, bergegas sebisa mungkin menuju kelas. Cepat ia menghabiskan sisa makanan di mulutnya. Lari. Berharap tak ada Pak Jo, satu satunya Guru yang mendapat julukan “the Killer man” disekolah itu. Hitungan detik Raffa berlari, puluhan langkah yang dihasilkan, saat itu juga ia teringat sesuatu. Ow! Buku Serial Vavoritnya tak bersamanya. Sekejap ia memutar badan. Kembali. (note; aduh Raffa.. pake balik lagi segala kau teh katanya takut sama pak jo. capedeh)   
“hhh” Meski terengah Raffa menarik nafas lega. “Aku beruntung”. Pikirnya. Dilihatnya dari jarak agak kejauhan ternyata tak ada wujud Pak Jo sedang bertengger atau mondar mandir di koridor lorong-lorong kelas. Syukurlah. Ia melanjutkan langkahnya dengan santai.
Gemuruh riuh rendah dan sorak sorai bising dari dalam kelas.